Mendarat di Bangkok, Thailand (1)

Ibukota Thailand ini berkembang menjadi pusat regional yang dapat menyaingi Singapura, tidak menutup kemungkinan, Hong Kong. Bangkok merupakan salah satu kota dengan perkembangan pesat, dan ekonomi yang dinamis.

Sejatinya, Bangkok telah lama menjadi pintu masuk bagi penanam modal asing yang ingin mencari pasar baru di daratan Asia. Cuplikan ringkas tentang Bangkok saya dapat dari Wikipedia, saya membacanya jelang kunjungan ke Bangkok, Thailand pada 18 Februari lalu. Kunjungan kesana memang tidak sampai sepekan, hanya sampai 21 Februari.

Thailand adalah negara nonmuslim kedua di dunia yang memiliki predikat muslim friendly versi Global Muslim Travel Index (GMTI) 2015. Karena, Thailand telah menyiapkan produk dan jasa yang dibutuhkan bagi wisatawan muslim. Misalnya, restoran halal dan ketersediaan mushalla di berbagai mal.

Untuk mempermudah mencari makanan halal atau masjid, wisatawan bisa mengunduh aplikasi Thailand Muslim Friendly Destination secara gratis di smartphone berbasis iOS dan Android. Aplikasi yang diluncurkan Badan Pariwisata Thailand (Tourism Authority of Thailand/TAT) tersebut berisi informasi mengenai restoran-restoran halal dan mesjid yang ada di sekitar sekaligus memberikan panduan untuk menuju ke sana.

Karena itu, ternyata berkunjung ke Bangkok sangatlah mudah. Tulisan singkat ini akan membahas satu sisi dari perjalanan penulis kesana, saat menghadiri undangan dari salah satu organisasi Internasional yang bergerak di bidang kepemudaan, yaitu Global Leadership Institute.

Tepat pukul 18.00 waktu Thailand, Kamis (18/2) itu, Pesawat Air Asia yang saya tumpangi mendarat di Bandar Udara Don Mueang, Bangkok setelah menempuh penerbangan kurang lebih dua jam dari Kuala Lumpur, Malaysia. Sebelumnya, saya terbang dari bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh. Pilihan ini menurut saya lebih mudah, dari pada harus ke Jakarta dulu yang terlalu jauh.

Bagi turis yang datang dari negara-negara ASEAN akan lebih mudah untuk masuk ke Negara yang dikenal dengan julukan gajah putih ini. Pasalnya, anda tidak perlu membayar Visa, cukup dengan mengisi form Arrival yang disediakan oleh awak pesawat yang dibagi satu persatu saat penerbangan. Form tersebut akan diserahkan kepada awak di Imigrasi Bandara setempat, untuk mendapat stempel pada Pasport.

Bangkok, Thailand

Hanya beberapa saat dan tak sampai 5 menit untuk menghadap pihak imigrasi, saya langsung dipersilahkan masuk. “Sawadi kha,” ucap petugas bandara menyambut turis, yang kurang lebih berarti selamat datang atau say hello.

Perbedaan awal yang akan terlihat saat penulis menginjakkan kaki di Thailand adalah bahasanya, bahasa Thai tidak menggunakan huruf latin seperti bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, namun mereka menggunakan aksara Abugida. Kelak, teman saya menyebutnya tulisan cacing.

“Welcome to Thailand,” teman saya, Ahmad Yanis yang sudah empat jam lebih awal tiba di Bangkok menyambut saya di Bandara. Ahmad Yanis berasal dari Langsa, dirinya terbang ke Bangkok dari Medan, dan tiba lebih awal. Suasana bandara terlihat sedikit padat hari itu.

Yanis yang menggunakan kaca mata, dan berwajah mirip-mirip dengan orang Thai membuatnya terlihat seperti masyarakat Bangkok pada umumnya. Bedanya dia tidak berbahasa Thailand, hanya bahasa Inggris dan Aceh saja. Kami pun beranjak.

“Bismillah, semoga perjalanan ini ada manfaatnya,” saya membatin. Yanis kemudian menunjukkan saya alamat hotel, bernama Novotel Bangkok Bang Na. Kami pun mencari transportasi yang paling mudah untuk sampai kesana, mengingat matahari yang mulai tenggelam.

Lalu, mudah kah jalan-jalan ke Bangkok? Keliling Bangkok bisa naik Skytrain, Metro, taksi, atau kendaraan tradisional yakni tuk-tuk, yang tidak jauh berbeda dengan Bemo.

Selain kendaraan darat, ada juga Chao Phraya Express yang melintasi Sungai Chao Phraya. Jalurnya dibedakan lewat warna bendera mulai dari oranye, kuning, hingga biru. Warna yang terakhir itu merupakan Tourist Boat. Untuk naik kapal ini cukup murah, hanya 30 Baht (Rp 9.300) untuk sekali jalan. Namun sayang, waktu yang singkat membuat saya harus mengandalkan taksi. Tapi kalau ingin transportasi lain, juga cukup mudah, ada banyak peta yang disediakan dan ditulis dalam bahasa Inggris, bukan tulisan cacing.

Kendaraan sungai lainnya adalah Saen Saep Express Boat yang melaju di Kanal Saen Saep. Menurut kata orang-orang di Bangkok, kapal ini sering digunakan oleh pekerja kantoran untuk menghindari macet di jalanan. (Bersambung)