Hapidin Memperkenalkan Diri dengan Kaki Kiri

Persiraja Banda Aceh, sadar akan krisis lini depan yang tengah dihadapi saat itu. Penyerang yang nyaris tak tergantikan, Fahrizal Dillah berkutat cedera yang tak kunjung sembuh hingga Liga 2 musim ini kick off.

Dimulainya Liga 2, Persiraja menjamu tim promosi Persik Kendal pada 24 April di Banda Aceh, namun tumpulnya lini depan membuat Laskar Rencong -Persiraja- mengakhiri laga imbang, 0-0. Desakan suporter mendatangkan striker baru sejatinya sudah terdengar sebelum kompetisi digulir.

Tiga hari sebelum laga perdana dimulai, Hapidin yang cabut dari PSIS Semarang, sudah menginjakkan kakinya di stadion H. Dimurthala, markas Persiraja, namun sang pemain tidak diturunkan oleh pelatih kepala Akhyar Ilyas. Wajar saja, Hapidin belum mengenal satu sama lain.

Memasuki pekan kedua, Persiraja bertandang ke Persibat Batang, Hapidin diturunkan sebagai starter, namun, sang pemain gagal menciptakan sebiji gol ke gawang klub yang pernah dibawanya promosi dari Divisi I 2014 ke Divisi Utama (Liga 2). Persiraja takluk 2-1 lewat penalti kontroversial hadiah wasit untuk tuan rumah Persibat.

Para pendukung tentu saja berharap lebih dari sang pemain sebagai tukang gedor, apalagi Persiraja diatargetkan untuk promosi ke Liga 1, sebuah cita-cita mulia. Dimulainya pekan ketiga, Hapidin menjawab keraguan publik Dimurthala itu, dua tendangan kaki kiri Hapidin meluncur deras ke gawang PSIR Rembang, Jumat malam (4/5), dua gol itu pula yang membawa tiga poin perdana musim ini bagi klub Lantak Laju -julukan Persiraja di Liga 2. Publik Aceh awalnya nyaris tak pernah mendengar nama Hapidin, tidak sedikit pula yang meragukan kualitasnya sebagai mesin gol baru.

Menariknya, gol perdana yang cukup berkesan tersebut dalam debut Hapidin di Lampineung dicetak melalui tendangan sudut, yang diteruskan langsung ke gawang. Sontak, gol itu menjadi viral di jagat maya, hingga menjadi pembicaraan di warung-warung kopi. Dalam laga itu, satu gol lainnya diciptakan Hapidin juga lewat tendangan bola mati di depan kotak penalti, bola hasil tendangan Hapidin memantul ke tanah sebelum menggoyang jaring gawang PSIR Rembang. Kaki kiri pemain bernomor punggung 9 ini menusuk bak rencong yang begitu tajam.

Hapidin yang sudah menginjak usia 26 tahun ini, semakin menegaskan diri sebagai The Sniper usai kembali mempersembahkan tiga poin bagi Persiraja, kali ini menjamu tim kuat Persis Solo, tendangan kaki kiri melengkung Hapidin dari sisi kiri kotak penalti, lagi-lagi tak terbendung. Satu gol tersebut cukup untuk mengunci kemenangan skuat asuhan Akhyar Ilyas ini.

Dua pekan itu, bagi publik Dimurthala, seolah tak ada yang lebih indah selain meneriakkan nama Hapidin dari seluruh tribun penonton. Suporter Kutaraja untuk Lantak Laju (SKULL), juga berkali-kali ikut menyanyikan lagu untuk Hapidin. Pemain bertubuh ramping ini, sukses memperkenalkan diri lewat kaki kirinya dengan tiga gol yang berbuah kemenangan bagi Persiraja di kandang musim ini.

Pelatih Akhyar Ilyas yang akrab dengan formasi 4-2-3-1, tampaknya sudah faham dengan kualitas yang dimiliki seorang Hapidin, hingga Akhyar berani untuk mendatangkannya ke Aceh, padahal sebelumnya, usai mundur dari PSIS Semarang, klub Liga 1, Hapidin sempat seleksi di Persiba Balikpapan, klub yang bermain di Wilayah Timur, namun sang pemain tidak mendapat tempat.

Tendangan akurat yang dimiliki kaki kiri Hapidin ternyata bisa dimaksimalkan dengan baik oleh Akhyar Ilyas untuk memcah kebuntuan. Bahkan, pada laga terakhir sebelum jeda Ramadan, Persiraja mencuri satu poin dari Persika, lagi-lagi kaki kiri Hapidin yang menjadi penentu. Saat itu, kedudukan berakhir 2-2, gol pertama Persiraja, dilesakkan Vivi Asrizal.

Riwayat Cedera

Publik sepak bola Aceh, wajar-wajar saja sempat meragukan kualitas Hapidin di awal-awal kedatangannya. Sebelum bergabung dengan Persiraja, Hapidin sejatinya sempat terpuruk karena mengalami cedera patah tulang kering kaki kiri, dan mendapat masalah pada pergelangan kakinya.

Itu terjadi saat Ia ikut turnamen antar kampung (tarkam) di Kebon Rowopucang, Pekalongan pada 2015. Saat itu, kompetisi resmi sedang tak berjalan dan PSSI dalam kondisi dibekukan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.

Dalam usahanya untuk pulih, Hapidin sempat hampir menjual trofi top skor Divisi I miliknya yang pernah ia dapatkan untuk membantu pembiayaan medis. Kasus cedera Hapidin sempat membuat geger persepakbolaan Tanah Air pada awal tahun itu.

Terkait cedera Hapidin, pelatih Akhyar Ilyas saat mendatangkan Hapidin, membela pemain anyarnya itu. “Hapidin benar pernah cedera panjang, namun itu sudah lama, ia (Hapidin) sudah come back tahun 2017 saat memperkuat Persibat di penghujung musim,” kata Akhyar meyakinkan. []