Cara Pemain dan Penonton Bola Menikmati Sepakbola

SEBUAH tim sepak bola, tentu saja punya fans fanatik tersendiri, baik itu lokal maupun tim global yang dapat disaksikan lewat layar kaca. Entah bagaimana, seorang penikmat sepak bola, dapat mengidolakan seorang pemain yang padahal sama sekali beum pernah (tidak) ditemuinya.

Nah, itulah sepak bola. Terkadang kita menyukai sebuah tim dengan alasan-alasan sepele. Mengidolakan seorang pemain, terkadang hanya karena kecepatan skilnya saat bermain Playstasion.

Dalam sebuah diskusi ringan sambil santai, ditemani kopi dan kacang, kita sering membahas tim-tim sepak bola, pada medio 2006, Liga Italia Serie-A tengah gencar-gencarnya. Sempat saya mengidolakan AC Milan kala itu, karena ada Shevchenko di lini depannya.

Hal yang sama ternyata juga diidolakan oleh rekan saya. Uniknya, dia menyukai Shevchenko kala itu, karena menang di turnamen PS 1 yang digelar di kotanya, Lhokseumawe. “Sejak saya juara turnamen ini dengan AC Milan, saya terus mengidolakan tim ini. Hingga akhirnya Sheva pindah ke Chelsea.”

Ketika sosok idolanya itu pindah, ternyata tim yang dia kagumi juga berubah menjadi Chelsea. Wajar saja, dan tidak masalah sama sekali, karena kita menikmati sepak bola. Dan kini Sheva sudah pensiun dari Chelsea, tapi teman saya ini belum move on dari klub London itu, sampai saat ini.

Cara pemain bola dan penikmat bola mengidolakan seorang pemain, tentu saja berbeda. Dengan beberapa rekan pemain bola, saya coba beberapa kali sempat bertanya, tentang bagaimana mereka meningkatkan skill dan kepercayaan diri dalam bermain bola.

Ternyata jawaban yang paling dominan adalah mereka memainkan sepak bola dengan melihat pemain profesional di liga-liga top Eropa. Semisal Liga Spanyol, Inggris, Italia, hingga Jerman. Mereka mempelajari bagaimana taktikal dan membaca sebuah permainan sepak bola.

Seseorang yang mengidolakan Puyol, mereka tidak akan ragu sama sekali untuk bermain seperti Puyol, bahkan dengan gaya rambut yang sama sekalipun bila memungkinkan. Begitu juga ketika seorang pemain seperti di Indonesia, mengidolakan Ronaldo, mulai dari tendangan bebas dan cara selebrasi, mereka praktekkan di lapangan. Tentu saja sesuai kemampuan dan kondisi rumput, untuk selebrasi-selebrasi tertentu.

Maka tidak mengherankan ketika Zulfiandi misalnya, yang mengidolakan Sergio Busquets, bisa bermain seperti sang idolanya saat memperkuat timnas. Ataupun Luis Irsandi di Persiraja, yang bermain seperti Puyol kala di Barcelona. Mereka menonton sepak bola untuk mempraktekkannya.

***

Terima kasih telah membaca.